25
Sumedang - Senin, 1 November 2024. Saya memiliki banyak impian dalam hidup. Salah satunya adalah berkarya di lingkungan yang dinamis, penuh tantangan, dan diisi oleh orang-orang yang cakap sekaligus berakhlak. Bagi saya, semua itu dapat saya temukan melalui dunia pendidikan.


Kegiatan mewarnai dan menggambar di RKBC
Pendidikan adalah jalan untuk mentransfer ilmu kepada masyarakat, agar tercipta kesejahteraan yang lebih luas. Ilmu adalah senjata manusia untuk bertahan dalam hidup, namun bagi saya, ilmu saja tidak cukup. Sebagai pendidik, saya juga mengajarkan iman—karena iman adalah kunci ketenangan jiwa. Orang yang berilmu namun jiwanya gelisah tidak mampu menghadirkan maslahat bagi banyak orang, tetapi mereka yang berilmu dan tenang dapat menjadi cahaya bagi masyarakat.
Awal Mula RKBC
Rumah Karakter Bintang Ceria (RKBC) berdiri pada 29 Juli 2018 di pusat Kabupaten Sumedang, tepatnya di Jalan Panday, Gang Makam Rangga Gede No. 29B, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan. RKBC hadir dari kegelisahan saya melihat bagaimana anak-anak kini semakin jarang bermain bersama dan lebih banyak disibukkan oleh gadget. Dari sinilah muncul ide sederhana: bagaimana jika kami menyediakan kegiatan 3–4 jam tanpa gadget?
Kami memutuskan untuk membuka pelatihan mewarnai setiap hari Ahad—hari yang paling memungkinkan bagi kami karena hari lainnya ada pekerjaan lain. Tempatnya kami buat di pinggir jalan agar mudah dilihat, mudah diakses, dan membuat anak-anak tidak merasa canggung untuk ikut.
Namun perjalanan awal tidak semudah dongeng Cinderella. Tidak sedikit nyinyiran, komentar miring, bahkan keraguan dari orang terdekat tetangga, teman, bahkan keluarga sendiri. Tetapi ketika tekad sudah bulat, langkah pun harus terus dilanjutkan.
Berkembang karena Keikhlasan
Dari yang awalnya hanya memiliki empat meja, perlahan kegiatan mulai berkembang. Berkat donatur dan iuran bersama, kami bisa membeli karpet sepanjang sepuluh meter. Dari situ, mahasiswa, komunitas, hingga organisasi kepemudaan mulai bergabung. Mereka mengajar dengan ikhlas, tanpa bayaran, semata-mata karena kepedulian.
Jumlah peserta pun bertambah, meski mayoritas masih anak-anak SD hingga kelas empat. Namun hasilnya tidak mengecewakan. Anak-anak mulai mahir mewarnai: dari sketsa wajah hingga gradasi warna. Bahkan ketika mengikuti lomba tingkat kabupaten, ada yang meraih Juara 3 dan Harapan 3.


Relawan dan Pemustaka di RKBC
Ada pula kisah membanggakan dari Risma, salah satu mahasiswa yang sering mengajar di RKBC. Berawal dari keraguan dirinya sendiri, ia memberanikan diri melamar sebagai guru kelas di Sekolah Kak Seto Mulyadi. Saingannya ratusan orang dari seluruh Indonesia, banyak dari kampus besar dan ternama. Namun dengan keyakinan dan tekad, Risma berhasil masuk 10 besar hingga akhirnya menjadi satu dari tiga guru yang diterima—mengalahkan lebih dari 200 pelamar lainnya. Sebuah pencapaian luar biasa yang lahir dari ruang kecil bernama RKBC.
Semakin Banyak Dukungan
Setelah melihat perkembangan RKBC, berbagai pihak mulai memberikan dukungan: dari RT, RW, kelurahan, hingga dinas-dinas terkait. Kami bahkan mengajukan proposal pembangunan rumah panggung agar kegiatan tidak perlu lagi dilaksanakan di pinggir jalan. Lahan yang biasa kami gunakan pun kini sudah berubah fungsi menjadi rumah makan sederhana Hj. Erat, yang kini menjadi salah satu tempat makan favorit pejabat, menteri, hingga Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Sumedang.
Kini RKBC semakin ramai dikunjungi mahasiswa, pelajar, komunitas, Dinas Perpustakaan, Dinas Pendidikan, hingga radio pemerintah ERKS. Mereka datang untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan mendukung Sumedang sebagai Kota Literasi 2030. Kami sadar, tujuan besar seperti ini tidak bisa dicapai sendirian dibutuhkan dukungan dari pemerintah pusat hingga masyarakat di akar rumput.
Perjalanan kami pun dituliskan dalam buku antologi puisi, hingga membawa saya menjadi salah satu dari 10 penulis lintas provinsi. Sebuah pencapaian yang lahir dari kegiatan yang selama ini orang anggap "sukarela dan tidak menghasilkan uang". Padahal, ketika dilakukan dengan ikhlas, keberkahan datang dari berbagai arah: relasi, sahabat, hingga jaringan dari seluruh Indonesia yang meski belum pernah bertemu, sudah terasa seperti keluarga. Dari ruang kecil itu pula lahir orang-orang hebat: guru kelas, MC kabupaten, duta baca, dan semoga—di masa depan—lebih banyak lagi.
Itulah sekelumit perjalanan yang bisa saya sampaikan. Semoga kisah ini bisa menginspirasi para relawan di mana pun berada. Teruslah bergerak, walau kadang harus sendirian. Teruslah menebar senyuman, meski lelah menghadang. Karena pada akhirnya, waktu akan berlalu, perjalanan akan selesai, tetapi karya adalah sesuatu yang abadi.
Penulis: Enjang Herawan (Founder RKBC)