25
Pagi itu, Selasa (25/11/2025), udara Sumedang terasa lebih sejuk dari biasanya. Embun masih menggantung di ujung daun ketika halaman MTsS Persis Sumedang mulai dipenuhi langkah-langkah siswa yang bergegas memasuki sekolah. Namun ada sesuatu yang berbeda. Senyum para siswa tampak lebih lebar, bisik-bisik kecil terdengar di banyak sudut, dan beberapa siswa terlihat membawa sesuatu yang disembunyikan di balik tas mereka.
Di balik semua gerak-gerik itu, para guru sebenarnya sudah bisa menebak: Hari Guru Nasional selalu membawa kejutan kecil atau besar dari para murid. Namun mereka tak pernah benar-benar tahu bagaimana bentuk kejutan itu setiap tahunnya.
Pagi yang Penuh Bisik-Bisik.
Di ruang guru, Mahdi—salah satu guru yang dikenal dekat dengan para siswa—baru saja meletakkan tasnya ketika dua rekan guru lainnya, Bu Wida dan Pak Ridwan, menatapnya sambil tersenyum simpul.
“Pak Mahdi, hari ini kayaknya banyak siswa yang bergerak aneh ya,” canda Bu Wida sambil menyesap teh hangat.
Mahdi tertawa kecil. “Iya, dari tadi pagi saya merasa banyak mata yang memperhatikan. Saya pikir mungkin karena ASAS Ganjil, ternyata ada yang lain.”
Pak Ridwan mendekat, menurunkan suaranya seolah menyimpan rahasia besar. “Saya lihat tadi beberapa anak dari kelas 9 kumpul di mushola. Kayaknya lagi nyiapin sesuatu.”
“Mudah-mudahan bukan permainan petak umpet di Hari Guru,” jawab Mahdi sambil tertawa, membuat keduanya ikut tersenyum.
Upacara Sederhana yang Mengharukan.
Sekitar pukul 07.00, seluruh siswa dan guru berkumpul di lapangan. Upacara pagi itu tampak sama seperti biasanya, namun atmosfernya berbeda. Kepala MTsS Persis Sumedang, Budi Setiawan, S.Pd.I, berdiri di podium dengan raut wajah hangat.
“Bapak dan Ibu Guru,” ujarnya dalam sambutan, “Hari ini adalah hari penghargaan. Penghargaan untuk dedikasi, kesabaran, dan cinta yang Bapak/Ibu berikan dalam mendidik generasi masa depan. Kami bersyukur memiliki para pendidik yang bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan keteladanan.”
Para guru saling menatap satu sama lain. Ada yang tersenyum, ada yang menggigit bibir menahan haru. Mahdi merasakan tenggorokannya mengeras.
Usai sambutan, sekelompok siswa maju membawa sebuah poster besar bertuliskan:
“Selamat Hari Guru, Terima Kasih untuk Segala Cinta dan Pengorbanan.”
Salah satu siswa kelas 8, Gendis, melangkah maju. “Bapak Ibu Guru,” katanya dengan suara sedikit bergetar, “kami mungkin sering membuat Bapak Ibu lelah, marah, atau kecewa. Tapi percayalah, kami sangat mencintai dan menghormati kalian. Terima kasih sudah sabar menghadapi kami.”
Suara tepuk tangan menggema. Beberapa guru menundukkan kepala, mengusap mata perlahan.
Kembali ke Ruang Guru: Kejutan Tak Terduga.
Upacara selesai, para guru kembali ke ruangannya. Suasana masih hangat ketika dua siswa mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum, boleh masuk?” tanya seorang siswa laki-laki sambil membawa sebuah kotak putih.
“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Nak?” tanya Pak Mahdi.
“Kami… ada sedikit kejutan,” jawabnya malu-malu.
Kotak itu dibuka, memperlihatkan sebuah kue kecil berlapis krim coklat dan putih dengan tulisan sederhana:
“Terima kasih, Guru kami.”
Para siswa saling pandang, lalu salah satu dari mereka, Nizar, berkata pelan, “Ini bukan apa-apa, Pak. Tapi kami ingin Bapak dan Ibu tahu, kalian sangat berarti buat kami.”
Ruang guru mendadak sunyi. Suasana haru perlahan meresap.
“Terima kasih banyak, Nak,” jawab Bu Wida, matanya berkaca-kaca.
Mahdi menambahkan, “Perhatian seperti ini… jauh lebih berharga dari apa pun. Terima kasih sudah membuat hari kami istimewa.”
Para siswa tersenyum lega, lalu—atas izin guru—mengajak semua untuk berfoto bersama.
“Pak Mahdi, senyum dong, jangan terlalu serius!” seru seorang siswa.
Mahdi tertawa. “Ini senyum terbaik saya hari ini.”
Percakapan Hangat Setelah Kejutan.
Setelah para siswa kembali ke kelas, suasana ruang guru dipenuhi obrolan ringan.
“Anak-anak sekarang itu kreatif ya,” ujar Pak Ridwan sambil memotong kue.
“Kreatif dan perhatian,” timpal Bu Wida. “Kalau begini, rasa capek langsung hilang.”
Mahdi mengangguk. “Kadang kita lupa bahwa mereka memperhatikan setiap hal yang kita lakukan. Mereka ingat nasihat, ingat senyuman, bahkan ingat saat kita sedang lelah.”
Pak Ridwan menimpali, “Hari Guru itu bukan hanya tentang dirayakan. Tapi tentang kita yang diingat.”
Semua hening sebentar. Hanya suara langkah sepatu dan kertas yang dibolak-balik terdengar dari luar.
Momen yang Menyatukan.
Menjelang siang, para guru berbagi potongan kue sambil menikmati suasana santai di tengah padatnya jadwal ASAS Ganjil. Kue kecil itu menjadi simbol sederhana kebersamaan.
“Pak, ini bagian paling manis,” ujar Mahdi sambil menyodorkan potongan kue pada Bu Wida.
“Bagian manisnya bukan dari kuenya,” jawab Bu Wida, “tapi dari perhatian anak-anak.”
Semua kembali tertawa.
Pintu ruang guru terbuka lagi. Beberapa siswa masuk mengantar ucapan terima kasih satu per satu.
“Selamat Hari Guru, Pak Mahdi!”
“Terima kasih ilmunya, Bu!”
“Kami doakan semoga sehat selalu!
Satu per satu ucapan itu menjadi pengingat bahwa profesi guru mungkin melelahkan, tetapi selalu menguatkan dengan cara-cara sederhana.
Sebuah Penutup yang Menghangatkan
Ketika matahari mulai condong ke barat, suasana sekolah perlahan kembali normal. Namun hati para guru masih hangat. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar tugas dan nilai ujian hari itu—mereka membawa kenangan, penghargaan, dan rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Sebelum pulang, Mahdi menatap ruang guru untuk sesaat.
“Hari Guru memang satu hari dalam setahun,” ujarnya pelan, “tapi apresiasi ini… terasa untuk selamanya.”
Dan hari itu, MTsS Persis Sumedang menutup tanggal 25 November 2025 dengan satu pesan sederhana:
Bahwa menjadi guru berarti menjadi bagian penting dari kehidupan seseorang—bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
Penulis: Mahdi