25
TBM Pabukon Ngadongeng menggelar pertunjukan dongeng bertajuk "Budak Manglayang" pada Sabtu, 19 Juli 2025. Acara ini merupakan wujud nyata upaya melestarikan budaya Sunda melalui seni pertunjukan yang kental dengan nilai-nilai tradisi lokal. Pertunjukan ini menjadi bagian dari program pengembangan entrepreneurship yang berbasis pada kearifan lokal masyarakat Desa Mekarsari, khususnya yang berkaitan dengan sistem pertanian dan budaya yang mengiringinya.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi apik antara TBM Pabukon Ngadongeng dengan tim peneliti dosen dari Universitas Widyatama, yang beranggotakan Dr. Diah Sri Rejeki, S.Sos., M.I.Kom., Merryam Agustine, S.Sos., M.I.Kom., Denny Saputera, S.E., M.M., Ak., dan Ibrahim Adi Surya, S.Sn., M.Sn. Selain itu, pertunjukan ini juga didukung oleh TBM Bina Kreasi Muda, TBM Grand Cinunuk, Pemerintah Desa Mekarsari, dan Taruna Karya Dusun Manglayang. Sinergi ini menunjukkan komitmen berbagai pihak dalam melestarikan budaya dan memberdayakan komunitas.
Pertunjukan dongeng ini berlatar belakang realitas tradisi masyarakat pertanian sawah dan ladang di Desa Mekarsari, yang menganut sistem pranata mangsa. Sistem ini adalah pembagian waktu dalam setahun yang digunakan sebagai panduan untuk kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan pertanian. Masyarakat di sini mengenal konsep "panas bumi" dan "tiis bumi," dan masa peralihan antar keduanya sering kali diisi dengan kegiatan rereh atau istirahat sebelum musim tanam dimulai. Di Desa Mekarsari, masa istirahat ini diisi dengan permainan tradisional, salah satunya adalah "ulin kolecer," yang dimainkan oleh berbagai kalangan usia dan gender.
Tradisi ulin kolecer inilah yang menjadi sumber inspirasi utama untuk pertunjukan teater rakyat "Budak Manglayang." Dongeng ini bertujuan untuk menghidupkan kembali (repertoire) tradisi yang ada dengan menata ulang unsur-unsur ulin kolecer menjadi sebuah naskah teater yang menarik. Persiapan pertunjukan ini meliputi inventarisasi ragam alat permainan, cerita rakyat, hingga dekorasi yang relevan dengan tema pertanian dan kolecer. Seluruh proses ini juga melibatkan para pemeran, narator, pengiring musik, serta tim tata busana dan tata rias yang berdedikasi.
Pertunjukan "Budak Manglayang" disajikan dalam empat babak yang mengangkat kehidupan sehari-hari anak-anak Desa Mekarsari yang bermain kolecer sambil bernyanyi bersama (ngawih). Dongeng ini menampilkan tokoh-tokoh seperti Dadang, Udin, Imas, Rojak, Ramdan, Siti, Arman, Dani, Dewi, Ratna, Agung, dan Gilang. Salah satu hal menarik dari pertunjukan ini adalah kehadiran tokoh Dani, seorang tuna wicara, yang memberikan nilai inklusivitas dan mengajarkan bahwa permainan tradisional dapat dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali. Melalui dongeng ini, anak-anak diajak untuk melebur dalam kebersamaan, menjaga tradisi, dan memahami nilai-nilai persahabatan.