26
Kata itu meluncur pelan, nyaris bergetar, dari seorang founder TBM Riang Cendikia pada acara Anjang TBM kemarin.
Bukan kata besar. Bukan pula pidato panjang.
Hanya satu kata sederhana: maaf.
Namun justru kata itulah yang menghentikan waktu sejenak.
Mengendap di udara.
Masuk ke relung hati para pendengar.
Maaf…
kepada anak.
karena salah mendidik.
Betapa jarangnya kata itu diucapkan oleh orang dewasa.
Betapa beratnya mengakui bahwa kitalah yang keliru, bukan mereka.
Dalam budaya yang sering menempatkan orang tua, pendidik, dan penggiat literasi sebagai sosok “paling tahu”, kata maaf menjadi sesuatu yang terasa tabu. Kita diajarkan untuk mengarahkan, menasihati, membentuk, bahkan mengoreksi anak namun lupa bahwa dalam proses itu, kita juga manusia yang bisa salah langkah, salah nada, salah cara mencinta.
Anak-anak tumbuh dengan mata yang jujur.
Mereka merekam kata-kata kita.
Mereka menyimpan sikap kita.
Dan tanpa kita sadari, luka sering kali lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari niat baik yang disampaikan tanpa empati.
Kita terlalu sering berkata,
“Aku melakukan ini demi masa depanmu,”
namun lupa bertanya,
“Apakah caraku melukaimu hari ini?”
Kata maaf yang terucap di Anjang TBM itu seolah menjadi cermin besar.
Cermin bagi kita semua orang tua, guru, relawan TBM, pegiat literasi bahwa mendidik bukan tentang selalu benar, melainkan tentang berani bertanggung jawab ketika keliru.
Meminta maaf kepada anak bukan tanda kelemahan.
Ia adalah puncak kedewasaan.
Ia adalah pelajaran paling nyata tentang kejujuran dan kerendahan hati.
Bayangkan seorang anak yang mendengar,
“Maaf, Ayah salah.”
“Maaf, Ibu terlalu keras.”
“Maaf, Kakak belum mendengarkan dengan baik.”
Kalimat-kalimat itu mungkin tidak menghapus semua kesalahan, tetapi ia menanamkan satu nilai yang jauh lebih penting:
bahwa manusia boleh salah, dan keberanian terbesar adalah mengakuinya.
TBM, sebagai ruang belajar yang hidup, bukan hanya tentang buku dan baca-tulis. Ia adalah ruang tumbuhnya kemanusiaan. Dan ketika seorang founder berani mengucapkan maaf di hadapan publik, itu bukan sekadar pengakuan personal itu adalah pesan moral bagi kita semua.
Bahwa mendidik anak bukan tentang mencetak versi ideal menurut kita,
melainkan menemani mereka menjadi diri mereka sendiri,
tanpa kehilangan rasa aman untuk dicintai.
Sering kali kita menuntut anak untuk meminta maaf lebih dulu.
Padahal mungkin kitalah yang perlu memulai.
Karena anak yang dibesarkan dengan kejujuran emosional akan tumbuh menjadi manusia yang berani jujur pada dirinya sendiri.
Dan dari satu kata maaf, lahirlah generasi yang tidak takut untuk memperbaiki kesalahan, bukan menyembunyikannya.
Kemarin, di Anjang TBM, satu kata sederhana telah mengajarkan banyak hal.
Bahwa literasi hati sama pentingnya dengan literasi baca.
Bahwa cinta dalam pendidikan tidak selalu berbentuk arahan, kadang ia hadir dalam pengakuan:
“Maaf, kami masih belajar menjadi pendidik yang lebih manusiawi.”
Dan mungkin, itulah pelajaran paling berharga yang bisa kita wariskan pada anak-anak hari ini.
Penulis: Enjang
Editor: Fachri