26
Sumedang, 26 Mei 2026 — Di tengah kesibukan dunia pendidikan yang semakin kompleks, menulis tidak hanya menjadi keterampilan akademik, tetapi juga menjelma sebagai ruang ekspresi diri dan sarana menjaga keseimbangan psikologis. Hal ini tergambar dari pengalaman seorang guru di Kabupaten Sumedang, Mahdi, yang memaknai aktivitas menulis bukan sekadar bagian dari pekerjaan, melainkan juga sebagai medium untuk mengurai pikiran dan meredakan tekanan batin.
Dalam kesehariannya, Mahdi menjalani rutinitas yang cukup padat sebagai pendidik. Ia mengajar mata pelajaran IPS dan Adab di MTsS Persis Sumedang pada pagi hingga siang hari. Setelah itu, ia melanjutkan aktivitas mengajar di MDTU Nurul Iman dengan berbagai mata pelajaran keagamaan seperti Al-Qur’an, Hadits, Akidah, Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Bahasa Arab. Tidak berhenti di ruang kelas, pada sore hari ia masih meluangkan waktu untuk membimbing anak-anak mengaji di masjid setempat.
Rangkaian aktivitas tersebut menggambarkan intensitas peran seorang pendidik yang tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga membina karakter dan spiritualitas peserta didik. Dalam situasi seperti itu, diperlukan ruang pemulihan diri agar keseimbangan emosional tetap terjaga.
Menulis Sejak Masa Kecil
Ketertarikan Mahdi terhadap dunia tulis-menulis ternyata telah tumbuh sejak usia dini. Ia mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut sudah mulai terbentuk sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.
“Sejak kecil saya sudah mulai menulis puisi dan cerita sederhana,” ungkapnya.
Kecintaan terhadap literasi itu kemudian berkembang saat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika duduk di bangku SMP, ia aktif dalam kegiatan keterampilan literasi bahasa Indonesia. Pada masa itu, kegiatan menulis mulai diarahkan tidak hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan kemampuan berbahasa dan berpikir.
Memasuki masa SMA, minat tersebut semakin matang. Ia terlibat dalam komunitas sastra remaja dan berbagai kegiatan kesenian bahasa. Bahkan, ia pernah mengisi acara sastra di radio daerah Sumedang, yang saat itu dikenal sebagai Studio Radio Daerah (Sturada) dan kini menjadi eRKS FM.
Pengalaman tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan literasi Mahdi, karena mempertemukannya dengan ruang publik yang lebih luas, di mana karya sastra tidak hanya dibaca, tetapi juga didengarkan dan diapresiasi secara langsung oleh masyarakat.
Menulis sebagai Cermin Diri
Dalam keseharian, Mahdi dikenal sebagai pribadi yang cenderung pendiam. Ia lebih banyak mengamati daripada berbicara. Kebiasaan ini justru menjadi sumber kekuatan dalam proses kreatif menulis.
“Dalam keseharian saya lebih banyak memperhatikan. Dari situ biasanya muncul bahan-bahan tulisan,” ujarnya.
Dari pengamatan tersebut, ia kemudian menuangkan gagasan dalam berbagai bentuk tulisan seperti puisi, cerpen, hingga artikel sederhana. Menulis, baginya, menjadi ruang untuk menyampaikan apa yang tidak selalu dapat diucapkan secara langsung.
Dalam perspektif psikologis, kondisi seperti ini kerap disebut sebagai bentuk ekspresi diri non-verbal, di mana individu menggunakan tulisan sebagai media untuk menyalurkan emosi, pengalaman, dan refleksi batin.
Menulis dan Pengelolaan Tekanan Emosional
Lebih jauh, Mahdi mengakui bahwa menulis juga memiliki fungsi lain yang lebih personal, yakni sebagai sarana untuk meredakan tekanan mental dan emosional.
Dalam dunia pendidikan yang penuh tuntutan, seorang guru kerap dihadapkan pada berbagai tekanan, baik dari aspek administratif, tanggung jawab akademik, maupun dinamika sosial di lingkungan kerja. Dalam situasi tersebut, setiap individu membutuhkan mekanisme coping atau strategi pengelolaan stres yang sehat.
Bagi Mahdi, menulis menjadi salah satu bentuk coping tersebut.
“Dengan menulis, segala permasalahan yang dihadapi dapat dituangkan. Hati menjadi lebih tenang dan pikiran lebih jernih,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses menulis membuat seseorang dapat berdialog dengan dirinya sendiri secara lebih dalam. Apa yang semula terasa rumit dalam pikiran, perlahan menjadi lebih terstruktur ketika dituangkan dalam bentuk kata-kata.
Ruang Refleksi dalam Kata-Kata
Dalam salah satu pengalaman yang ia bagikan, Mahdi pernah menuliskan sebuah dialog imajiner yang menggambarkan perjalanan reflektif seorang tokoh. Dalam narasi tersebut, tergambar suasana senja di Sumedang yang menjadi latar percakapan tentang arah hidup dan pulang.
Tulisan tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan literasi kreatif, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat diolah menjadi karya yang bermakna.
Bagi Mahdi, menulis bukan sekadar aktivitas teknis merangkai kata, tetapi juga proses memahami diri sendiri.
“Menulis seperti memberi ruang bagi pikiran untuk berbicara dengan hati,” demikian makna yang ia rasakan dari proses tersebut.
Kepuasan Psikologis Setelah Menulis
Selain memberikan ketenangan, aktivitas menulis juga menghadirkan rasa puas setelah sebuah tulisan selesai dikerjakan. Menurut Mahdi, perasaan ini muncul ketika proses berpikir yang kompleks akhirnya dapat diselesaikan dalam bentuk tulisan yang utuh.
“Kalau tulisan selesai dari awal sampai akhir, biasanya pikiran terasa lebih ringan dan tenang,” katanya.
Kondisi ini sejalan dengan konsep psikologi kognitif yang menyebutkan bahwa ekspresi tertulis dapat membantu individu dalam mengorganisasi emosi dan mengurangi beban mental yang tidak terstruktur.
Menulis sebagai Energi Penggerak Diri
Lebih dari sekadar alat ekspresi, Mahdi memandang menulis sebagai energi yang mampu menggerakkan potensi diri manusia. Menulis, menurutnya, bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga spiritual dan emosional.
“Menulis bagi saya adalah energi yang menggerakkan potensi yang ada dalam diri, jiwa, dan pikiran,” ujarnya.
Dari perspektif ini, menulis menjadi sarana untuk menata arah hidup, memperjelas tujuan, dan menghubungkan antara cita-cita dengan realitas yang dijalani.
Literasi dan Dunia Pendidikan
Pengalaman Mahdi juga mencerminkan bagaimana literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembelajar yang terus mengembangkan dirinya melalui berbagai aktivitas intelektual, termasuk menulis.
Di tengah upaya peningkatan budaya literasi di Indonesia, praktik menulis di kalangan pendidik menjadi hal yang penting. Tidak hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan karakter dan kesehatan mental.
Aktivitas literasi yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk ekosistem pendidikan yang lebih reflektif, di mana guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menulis, berpikir, dan merefleksikan pengalaman mengajarnya.
Penelitian Mahasiswa dan Relevansi Sosial
Kisah Mahdi menjadi bagian dari studi awal yang dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Alya Zulfana R, yang tengah meneliti hubungan antara kegiatan menulis dengan ekspresi diri dan coping stress.
Penelitian ini berupaya melihat bagaimana aktivitas menulis dapat berfungsi tidak hanya sebagai keterampilan bahasa, tetapi juga sebagai mekanisme psikologis dalam menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini relevan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, terutama di kalangan pendidik yang memiliki beban kerja tinggi.
Penutup: Menulis sebagai Ruang Pulang
Dari pengalaman Mahdi, menulis tampak bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari cara hidup. Ia menjadi ruang untuk berpikir, merasa, sekaligus memulihkan diri.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, menulis hadir sebagai ruang sunyi yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk kembali mengenali dirinya sendiri.
“Pada akhirnya, menulis adalah arah pulang,” demikian refleksi yang tersirat dari perjalanan panjang seorang guru yang menjadikan kata-kata sebagai bagian dari kehidupannya.
Penulis: Mahdi
Editor: Fachri