Jumat, 24 Apr 2026

PRESS RELEASE

Menyalakan Semangat Hudaibiyah dari Sarongge

  • 24 Apr 2026, 15:49 WIB
  • Evi Nursanti Rukmana
  • 3 menit baca
  • 9 kali dibaca
Menyalakan Semangat Hudaibiyah dari Sarongge
24
Apr
26
Komunitas
Bagikan:

Malam baru saja turun di Sarongge, Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Udara desa yang sejuk menyelimuti langkah-langkah para pemuda yang datang satu per satu menuju sebuah rumah sederhana. Di kediaman H. Muhammad Shogir itulah, cahaya kecil peradaban sedang dinyalakan—melalui Dirasah Syahriyyah ke-28 Majelis El-Badr.


Kamis (23/4/2026) malam itu bukan sekadar pertemuan biasa. Forum yang digelar atas kolaborasi PD Pemuda Persis Kabupaten Sumedang ini menjadi ruang perjumpaan antara kegelisahan dan harapan, antara idealisme dan realitas. Para pemuda duduk melingkar, sebagian membawa catatan, sebagian lagi hanya membawa tekad untuk belajar.


Tema yang diangkat, “Manifestasi Pemuda PERSIS sebagai Kader Hudaibiyah”, terasa menggugah. Ia bukan sekadar judul diskusi, melainkan undangan untuk merenung: sejauh mana pemuda hari ini mampu meneladani nilai-nilai besar dari Perjanjian Hudaibiyah?


Di tengah keheningan yang penuh perhatian, Audri Fauzi Islami, S.Pd., memulai pemaparannya. Suaranya tenang, namun sarat penekanan. Ia tidak hanya menjelaskan sejarah, tetapi menghidupkannya kembali dalam konteks kekinian.


“Hudaibiyah mengajarkan kita bahwa kemenangan tidak selalu hadir melalui jalan yang keras. Ada kalanya, kesabaran dan strategi justru menjadi kunci,” tuturnya.


Kalimat itu seolah menggantung di udara, lalu perlahan meresap ke dalam benak para peserta. Di antara mereka, mungkin ada yang sedang menghadapi kegelisahan tentang arah perjuangan, tentang bagaimana bersikap di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan.


Diskusi kemudian mengalir, diperkaya oleh pandangan para penguji seperti Tiar Anwar Bachtiar, Dudung Abdul Rohman, dan Teten Rosyadi. Mereka tidak hanya menguji, tetapi juga membuka ruang tafsir baru—bahwa nilai Hudaibiyah bukan sekadar milik masa lalu, melainkan milik siapa saja yang ingin bersungguh-sungguh menapaki jalan dakwah.


Moderator Naufal Syauqi Fauzani menjaga alur tetap hidup. Ia memberi ruang bagi setiap suara, memastikan diskusi tidak hanya berjalan satu arah. Sesekali, tawa kecil pecah, mencairkan suasana yang sempat mengendap dalam keseriusan.


Namun yang paling terasa malam itu bukan hanya pertukaran gagasan, melainkan tumbuhnya rasa kebersamaan. Di sela diskusi, hidangan sederhana tersaji. Para peserta berbagi makanan, berbagi cerita, dan tanpa disadari—berbagi semangat.


Di ruang sederhana itu, tidak ada sekat antara yang muda dan yang lebih berpengalaman. Semua duduk dalam satu barisan yang sama: barisan pencari ilmu dan pejuang nilai.


Dirasah ini menjadi pengingat bahwa dakwah bukan sekadar tentang berbicara di depan umum, tetapi tentang membangun diri—menjadi pribadi yang sabar, teguh, dan cerdas dalam mengambil langkah. Nilai-nilai yang tercermin dalam Hudaibiyah terasa semakin relevan di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.


Malam semakin larut. Satu per satu peserta mulai beranjak pulang. Namun mereka tidak kembali dengan tangan kosong. Ada sesuatu yang ikut mereka bawa—sebuah kesadaran baru, bahwa menjadi pemuda bukan hanya soal usia, tetapi tentang kesiapan memikul amanah.


Dari Sarongge, sebuah desa yang mungkin tak banyak dikenal, lahir harapan yang tak sederhana. Harapan bahwa di tangan para pemuda inilah, semangat Hudaibiyah akan terus hidup—menjadi cahaya yang menuntun langkah, bahkan ketika jalan terasa gelap.


Dan malam itu, di bawah langit yang tenang, mereka tidak hanya belajar tentang Hudaibiyah—mereka sedang belajar menjadi Hudaibiyah itu sendiri.


Penulis: Mahdi

Editor: Fachri


Terakhir diperbarui: 24 Apr 2026 15:49 WIB