Jumat, 12 Jun 2026

PRESS RELEASE

Mempraktikkan Enam Dasar Literasi, Kepala SRT 04 Sumedang Ajak Siswa dan PTK Gelar Kamis Bersih

  • 12 Jun 2026, 15:36 WIB
  • Evi Nursanti Rukmana
  • 6 menit baca
  • 6 kali dibaca
Mempraktikkan Enam Dasar Literasi, Kepala SRT 04 Sumedang Ajak Siswa dan PTK Gelar Kamis Bersih
12
Jun
26
Literasi
Bagikan:

SUMEDANG, Kamis (11/6/2026) – Gerakan literasi di lingkungan pendidikan tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas membaca buku, menulis karya, atau memanfaatkan teknologi informasi. Lebih dari itu, literasi juga tercermin dalam kemampuan seseorang memahami lingkungan, memecahkan masalah, bekerja sama, serta menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Kamis Bersih yang dilaksanakan di SRT 04 Sumedang dengan melibatkan seluruh siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan (PTK). Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi enam dasar literasi yang terus dibudayakan di lingkungan sekolah dan asrama.


Kepala Sekolah SRT 04 Sumedang, Cece Enjang Kartiwa, menyampaikan bahwa kegiatan Kamis Bersih merupakan salah satu upaya sekolah dalam menanamkan budaya literasi yang menyentuh aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik. Menurutnya, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami lingkungan sekitar serta mengambil tindakan yang tepat dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.


“Lingkungan yang bersih dan tertata akan menciptakan suasana belajar yang nyaman serta mendukung tumbuhnya budaya literasi di sekolah. Karena itu, kami mengajak seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan untuk bersama-sama menjaga kebersihan sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa melalui kegiatan Kamis Bersih, siswa diajak untuk mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung dalam enam dasar literasi, mulai dari literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, hingga budaya dan kewargaan. Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran nyata yang menghubungkan teori dengan praktik sehingga peserta didik dapat memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kecakapan hidup.


Sejak pagi hari, para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Dengan membawa peralatan kebersihan masing-masing, mereka bersama para guru dan tenaga kependidikan membersihkan berbagai sudut lingkungan sekolah dan asrama. Area kelas, perpustakaan, halaman, taman, saluran air, tempat ibadah, hingga fasilitas umum lainnya menjadi sasaran kegiatan gotong royong. Suasana kebersamaan terlihat begitu kuat ketika seluruh warga sekolah bekerja sama tanpa membedakan tugas dan kedudukan masing-masing.


Kegiatan Kamis Bersih tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Mereka tidak hanya menerima teori tentang pentingnya menjaga kebersihan, melainkan mempraktikkannya secara nyata melalui tindakan sederhana yang dilakukan bersama-sama. Dari kegiatan tersebut, siswa belajar bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kesadaran, kedisiplinan, dan kerja sama.


Dalam perspektif Gerakan Literasi Nasional, kegiatan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan enam dasar literasi. Literasi baca tulis tercermin dari kemampuan siswa memahami berbagai informasi mengenai kesehatan dan kebersihan lingkungan. Literasi numerasi dapat diterapkan melalui pengelolaan jadwal piket, pembagian tugas, serta penghitungan kebutuhan sarana kebersihan. Literasi sains tampak dalam pemahaman mengenai dampak sampah terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.


Sementara itu, literasi digital dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk menyebarluaskan pesan-pesan edukatif tentang kebersihan dan kepedulian lingkungan. Literasi finansial terlihat dari kemampuan mengelola penggunaan alat dan bahan kebersihan secara efektif dan efisien. Adapun literasi budaya dan kewargaan diwujudkan melalui sikap gotong royong, kepedulian sosial, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.


Cece Enjang Kartiwa menegaskan bahwa pembiasaan positif seperti Kamis Bersih perlu dilakukan secara konsisten agar menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan peserta didik. Menurutnya, karakter disiplin, kerja sama, gotong royong, dan rasa tanggung jawab tidak dapat dibentuk secara instan, melainkan harus ditanamkan melalui kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan.


“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat diterapkan oleh para siswa di rumah dan di tengah masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai literasi yang dipelajari di sekolah benar-benar menjadi bagian dari perilaku sehari-hari dan memberikan manfaat yang luas bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.


Sementara itu, Wali Asrama sekaligus penggerak literasi SRT 04, Asep Herry Nugraha, S.I.Pust, menilai bahwa Kamis Bersih merupakan bentuk nyata literasi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, literasi tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan mengolah pemahaman menjadi tindakan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan.


“Melalui kegiatan ini siswa belajar bertanggung jawab, bekerja sama, peduli terhadap lingkungan, serta memahami bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama dapat memberikan dampak besar. Inilah hakikat literasi yang sesungguhnya, yakni kemampuan memahami dan mengimplementasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.


Hal serupa juga dilakukan oleh Wali Asrama SRT 04, Wawan Darmawan, yang turut mendampingi para siswa selama kegiatan berlangsung. Ia menilai bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang harus ditanamkan melalui keteladanan dan pembiasaan secara terus-menerus. Menurutnya, lingkungan yang bersih akan memberikan dampak positif terhadap kenyamanan belajar sekaligus membentuk pola pikir yang tertib dan bertanggung jawab.


"Kamis Bersih merupakan bagian dari implementasi enam dasar literasi, terutama yang berkaitan dengan literasi budaya dan kewargaan. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar tentang tanggung jawab, kepedulian sosial, gotong royong, serta kesadaran untuk menjaga lingkungan bersama. Semua itu sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW, yang mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan, mencintai lingkungan, dan berbuat kebaikan untuk kemaslahatan bersama," ujar Wawan Darmawan.


Menurutnya, nilai-nilai literasi kewargaan yang diterapkan dalam kegiatan Kamis Bersih tidak hanya bertujuan membentuk lingkungan yang sehat dan nyaman, tetapi juga menumbuhkan karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, serta mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan karakter, kata dia, akan lebih efektif apabila dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan yang diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.


Ia menambahkan bahwa ajaran Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari keimanan. Oleh karena itu, kegiatan Kamis Bersih bukan sekadar program rutin sekolah, melainkan juga sarana pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan peserta didik. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memahami bagaimana mengamalkan ajaran agama dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.


“Anak-anak perlu dibiasakan untuk peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal dan belajar. Ketika mereka terbiasa menjaga kebersihan asrama, kelas, dan lingkungan sekolah, maka nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial akan tumbuh dengan sendirinya,” tutur Wawan Darmawan.


Ia menambahkan bahwa kegiatan Kamis Bersih juga menjadi sarana untuk memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong di antara para siswa. Melalui kegiatan tersebut, mereka belajar saling membantu, menghargai kerja sama, serta memahami bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga oleh seluruh warga sekolah.


Menurutnya, pendidikan yang baik tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kebiasaan positif yang akan menjadi bekal peserta didik di masa depan. Karena itu, kegiatan Kamis Bersih menjadi bagian penting dari proses pendidikan di SRT 04 Sumedang yang sejalan dengan berbagai program literasi dan pembinaan karakter yang telah berjalan selama ini.


Lebih jauh, kegiatan Kamis Bersih juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah, sehat, dan berbudaya literasi. Lingkungan yang tertata rapi dan bersih diyakini mampu meningkatkan kenyamanan belajar, menumbuhkan semangat berkarya, serta mendukung berbagai program literasi yang selama ini telah berjalan di SRT 04 Sumedang, seperti kegiatan membaca, menulis, pengelolaan perpustakaan, pengembangan blog, dan literasi digital.


Melalui kolaborasi seluruh warga sekolah, kegiatan Kamis Bersih menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk aktivitas yang bermanfaat. Literasi bukan hanya kemampuan memahami teks, melainkan juga kemampuan memahami kehidupan dan mengambil tindakan yang tepat untuk menciptakan perubahan positif. Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, SRT 04 Sumedang terus berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, berbudaya, peduli lingkungan, serta siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.


Penulis: Mahdi

Editor: Fachri



Terakhir diperbarui: 12 Jun 2026 15:36 WIB