Senin, 27 Jul 2026

PRESS RELEASE

Enam Literasi Dasar: Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D. Tegaskan Koperasi Berbeda Secara Ideolo

  • 27 Jul 2026, 09:11 WIB
  • Evi Nursanti Rukmana
  • 3 menit baca
  • 5 kali dibaca
Enam Literasi Dasar: Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D. Tegaskan Koperasi Berbeda Secara Ideolo
27
Jul
26
Berbagi Pengetahuan
Bagikan:

SUMEDANG – Pemahaman mengenai koperasi sebagai bagian dari literasi ekonomi perlu diperkuat dalam implementasi enam literasi dasar, khususnya literasi finansial serta literasi budaya dan kewargaan. Hal tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan sebuah gerakan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.


Hal tersebut disampaikan Rektor IKOPIN University, Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D., kepada penulis pada Jumat pagi, 17 Juli 2026. Pandangan tersebut tertuang dalam tulisannya berjudul Koperasi Tidak Sama dengan Korporasi, Ia Dijawab Sendiri oleh Makna Isme dalam Capitalism vs Cooperativism, yang merupakan bagian dari Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi edisi 17 Juli 2026.


Menurut Agus Pakpahan, kapitalisme dan kooperativisme merupakan dua ideologi yang berbeda secara fundamental. Kapitalisme menempatkan modal sebagai pusat aktivitas ekonomi. Dalam sistem tersebut, manusia dipandang sebagai faktor produksi yang berfungsi menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal. Sebaliknya, kooperativisme menempatkan manusia sebagai subjek utama, sedangkan modal hanyalah alat untuk melayani kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan anggota.


Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut tercermin dalam tata kelola kedua lembaga. Korporasi dikendalikan berdasarkan besarnya kepemilikan modal melalui prinsip one share one vote. Sementara itu, koperasi menjalankan demokrasi ekonomi dengan prinsip one person one vote, sehingga setiap anggota memiliki hak suara yang sama tanpa memandang besarnya modal yang dimiliki. Demikian pula pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan berdasarkan partisipasi dan jasa anggota, bukan semata-mata berdasarkan besarnya penyertaan modal.


Agus Pakpahan menegaskan bahwa koperasi bukanlah organisasi yang bebas dari tantangan. Dinamika organisasi, perbedaan kepentingan, hingga konflik internal merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun kepercayaan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama. Menurutnya, koperasi menjadi ruang pendidikan sosial yang mengajarkan bagaimana kepentingan pribadi dapat diselaraskan dengan kepentingan bersama melalui musyawarah dan gotong royong.


Ia juga mengulas bahwa kemiskinan modal yang masih dialami banyak negara di kawasan tropis, termasuk Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang imperialisme dan kolonialisme. Oleh karena itu, koperasi dinilai menjadi strategi yang tepat untuk menghimpun kekuatan ekonomi rakyat melalui modal sosial berupa kepercayaan, solidaritas, dan kerja sama antarmasyarakat.


Sebagai bukti keberhasilan kooperativisme, Agus Pakpahan mengangkat perjalanan Credit Union Keling Kumang (CUKK) di Kalimantan. Koperasi kredit yang didirikan oleh masyarakat Dayak Iban tersebut berkembang dari 12 anggota dengan modal awal Rp291.000 pada tahun 1993 menjadi hampir 300.000 anggota dengan aset mendekati Rp3 triliun. Baginya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa gotong royong mampu melahirkan kekuatan ekonomi kolektif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Mengutip pemikiran Bung Hatta, Agus Pakpahan menegaskan bahwa koperasi merupakan alat perjuangan ekonomi untuk meningkatkan derajat rakyat. Karena itu, koperasi tidak boleh dipahami hanya sebagai bentuk badan usaha, tetapi sebagai gerakan ekonomi yang menempatkan manusia di atas modal serta membangun kedaulatan ekonomi bangsa melalui semangat kerja sama, demokrasi ekonomi, dan gotong royong.


Melalui pemahaman tersebut, Agus berharap masyarakat semakin menyadari bahwa penguatan literasi finansial tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola uang, tetapi juga memahami sistem ekonomi yang berkeadilan. Koperasi, menurutnya, merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan kesejahteraan bersama sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.


Penulis: Mahdi

Editor: Fachri



Terakhir diperbarui: 27 Jul 2026 09:11 WIB