Kamis, 21 Mei 2026

PRESS RELEASE

Penanaman Literasi Informasi Sejak Dini dalam Wawancara Jurnalistik Anak

  • 20 May 2026, 12:28 WIB
  • Evi Nursanti Rukmana
  • 4 menit baca
  • 23 kali dibaca
Penanaman Literasi Informasi Sejak Dini dalam Wawancara Jurnalistik Anak
20
May
26
Kegiatan Rekreatif dan Edukatif
Bagikan:

Sumedang — Selasa (19/5/2026), penanaman literasi informasi sejak dini terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif di lingkungan madrasah. Salah satunya melalui praktik wawancara jurnalistik anak yang dilaksanakan di MDTU Nurul Iman Batu Karut. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kreatif yang dirancang untuk melatih kemampuan komunikasi, keberanian bertanya, serta keterampilan menggali informasi secara langsung dari narasumber. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi saat ini, anak-anak diarahkan untuk terbiasa memahami cara memperoleh informasi yang benar, santun, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Mahdi, selaku guru kelas 2 Idadiyyah di MDTU Nurul Iman Batu Karut, memberikan bimbingan kepada para siswa mengenai tata cara melakukan wawancara kepada orang lain dengan pendekatan sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Dalam kegiatan tersebut, para siswa terlebih dahulu diberikan penjelasan mengenai pentingnya bersikap sopan saat berhadapan dengan narasumber, menjaga adab berbicara, serta menyusun pertanyaan sederhana yang mudah dipahami. Selain itu, siswa juga diajarkan untuk mendengarkan jawaban dengan saksama agar informasi yang diperoleh tidak keliru dan dapat dituliskan kembali dengan baik.


Sebagai bentuk contoh praktik langsung, Mahdi memperagakan cara melakukan wawancara kepada seorang narasumber bernama Elsah Susanti. Di hadapan para siswa, ia menunjukkan tahapan wawancara mulai dari membuka percakapan dengan salam, memperkenalkan diri, hingga menyampaikan pertanyaan-pertanyaan ringan yang bersifat informatif. Para siswa tampak memperhatikan dengan penuh antusias setiap langkah yang dicontohkan, bahkan beberapa di antaranya terlihat mulai menirukan cara bertanya dengan percaya diri.


Mahdi menegaskan bahwa kegiatan wawancara jurnalistik anak bukan hanya sekadar latihan berbicara, melainkan bagian penting dari pembelajaran literasi informasi sejak dini. Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk memiliki rasa ingin tahu yang sehat serta kemampuan berpikir kritis dalam menerima informasi. Dengan demikian, mereka tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama di era digital saat ini.


“Anak-anak perlu dibiasakan berani bertanya dan belajar menyampaikan informasi dengan baik sejak dini. Dengan kegiatan seperti ini, mereka belajar memahami etika komunikasi, menghargai orang lain, dan mengetahui cara memperoleh informasi secara benar,” ujar Mahdi saat memberikan arahan kepada para siswa.


Dalam pelaksanaannya, sebanyak sembilan siswa dibagi menjadi dua kelompok kecil agar kegiatan berjalan lebih efektif dan setiap anak memperoleh kesempatan untuk praktik secara langsung. Pembagian kelompok ini juga bertujuan melatih kerja sama, tanggung jawab, serta kemampuan berinteraksi antar teman sebaya.


Kelompok 1:

Keisha Almahyra Zerina

Naira Khalila Alfiani

Alesha Zahratu Syifa Andika

Putri Salwa

Ziandra Bagja Raffasya


Kelompok pertama ini difokuskan untuk melakukan wawancara kepada guru dan beberapa orang tua yang hadir di lingkungan madrasah. Mereka dilatih untuk menyusun pertanyaan sederhana serta mencatat jawaban narasumber dengan teliti.


Kelompok 2: 

Salma Rizkya K

Hikmal Faturahman

Rafania Shazfa Azahra

Anita Rahman


Kelompok kedua juga melaksanakan kegiatan serupa dengan sasaran wawancara yang sama, yaitu guru dan orang tua yang mengantar siswa ke madrasah. Kelompok ini diarahkan untuk lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan serta melatih keberanian berbicara di depan narasumber.


Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keceriaan. Para siswa terlihat antusias meskipun sebagian masih tampak malu-malu ketika mulai bertanya kepada narasumber. Dengan membawa buku catatan sederhana, mereka berusaha mencatat setiap jawaban yang diberikan agar dapat disusun menjadi laporan sederhana. Seiring berjalannya waktu, rasa percaya diri siswa mulai tumbuh dan mereka semakin lancar dalam menyampaikan pertanyaan.


Pertanyaan yang diajukan para siswa pun beragam, mulai dari aktivitas sehari-hari, pekerjaan orang tua, pengalaman masa sekolah, hingga harapan terhadap pendidikan anak-anak. Dari proses tersebut, siswa tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar mendengar, memahami isi jawaban, serta menghargai pengalaman orang lain sebagai bagian dari proses pembelajaran literasi informasi.


Kegiatan wawancara jurnalistik anak ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan karena dilakukan secara langsung di lingkungan madrasah. Anak-anak merasa seperti wartawan kecil yang sedang bertugas mengumpulkan informasi. Hal ini membuat mereka lebih aktif, berani, dan tidak mudah bosan dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas.


Para orang tua yang hadir pun memberikan respon positif terhadap kegiatan tersebut. Mereka merasa bangga melihat anak-anak mulai berani berbicara, bertanya, dan belajar menggali informasi secara santun. Beberapa orang tua bahkan berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin agar anak-anak semakin terlatih dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.


Melalui kegiatan wawancara jurnalistik anak ini, MDTU Nurul Iman Batu Karut berupaya menanamkan kemampuan literasi informasi sejak dini agar para siswa tumbuh menjadi generasi yang aktif, cerdas, komunikatif, serta mampu menyaring dan menyampaikan informasi dengan bijak di tengah perkembangan zaman digital saat ini. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan budaya literasi dapat semakin mengakar dalam kehidupan peserta didik.


Penulis: Mahdi

Editor: Fachri



Terakhir diperbarui: 20 May 2026 12:28 WIB