26
Sumedang, 21 Mei 2026 — Pimpinan Jamaah Persatuan Islam (Persis) Mariuk–Tanjungsari bersama DKM Abu Bakar Siddiq kembali menggelar Pengajian Rutin Malam Jumat ke-3 di Masjid Abu Bakar Siddiq, Mariuk–Tanjungsari, Kamis (21/5/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung ba’da Isya tersebut dihadiri jamaah dari berbagai kalangan masyarakat yang antusias mengikuti kajian keislaman sebagai bagian dari pembinaan umat dan penguatan ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekitar.
Pengajian rutin yang dimulai pukul 19.20 WIB itu menghadirkan pemateri Ust. Handi Handriyan selaku Ketua PC Persis Sukasari. Dalam suasana yang khidmat dan penuh kekeluargaan, jamaah mengikuti pemaparan materi yang menitikberatkan pada pemahaman nilai-nilai qurban sebagai bagian dari pendidikan spiritual dan sosial dalam Islam. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat tradisi menuntut ilmu melalui majelis taklim yang secara konsisten diselenggarakan oleh jamaah Persis Mariuk–Tanjungsari bersama DKM Abu Bakar Siddiq.
Dalam pengajian tersebut disampaikan materi bertajuk “Ibadah Qurban Membangun Kepribadian Muttaqin” yang membahas makna qurban berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Materi tersebut menegaskan bahwa ibadah qurban tidak hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan semata, melainkan memiliki dimensi pendidikan ruhani yang mendalam dalam membentuk pribadi muslim yang bertakwa, ikhlas, serta memiliki kepedulian sosial terhadap sesama.
Ust. Handi Handriyan menjelaskan bahwa syariat qurban merupakan bagian dari ajaran tauhid yang diwariskan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah Swt. Menurutnya, keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi pelajaran besar tentang keimanan, kesabaran, dan kesiapan berkorban demi menjalankan perintah Allah tanpa keraguan sedikit pun.
“Momentum Iduladha sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban, tetapi bagaimana umat Islam mampu menghadirkan nilai keikhlasan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat pengorbanan itu harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan kepedulian kepada sesama,” ujarnya dalam penyampaian materi.
Dalam penjelasannya, pemateri juga mengutip firman Allah Swt dalam QS. Al-Hajj ayat 34 mengenai disyariatkannya penyembelihan qurban agar manusia senantiasa menyebut nama Allah atas nikmat rezeki berupa hewan ternak yang telah dianugerahkan-Nya. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh bentuk ibadah pada hakikatnya merupakan wujud penghambaan dan rasa syukur kepada Allah Swt.
Selain itu, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102–107 turut dijelaskan sebagai simbol pengorbanan besar yang dilandasi keyakinan dan keimanan yang kuat. Ketaatan Nabi Ismail yang bersedia memenuhi perintah Allah melalui ayahnya menjadi teladan tentang pentingnya kepasrahan dan keikhlasan dalam menjalankan syariat Islam.
Pemateri juga menegaskan bahwa hakikat qurban bukan diukur dari banyaknya hewan yang disembelih ataupun nilai materi yang dikeluarkan, melainkan pada kualitas ketakwaan orang yang melaksanakannya. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 37 bahwa daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai adalah ketakwaan hamba-Nya.
Tidak hanya menanamkan nilai spiritual, ibadah qurban juga mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Melalui distribusi daging qurban kepada masyarakat, khususnya kaum dhuafa dan fakir miskin, umat Islam diajak untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun rasa empati terhadap sesama. Semangat berbagi tersebut dinilai mampu memperkuat solidaritas sosial di tengah kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, jamaah juga diingatkan agar senantiasa menjaga keikhlasan dalam beribadah dan menghindari sifat riya. Pesan tersebut diperkuat dengan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang bahaya syirik kecil dalam amal ibadah, yakni melakukan ibadah semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia.
Panitia berharap pengajian rutin malam Jumat tersebut dapat terus menjadi sarana peningkatan pemahaman keislaman masyarakat sekaligus memperkuat silaturahmi antarjamaah. Dengan memahami makna qurban secara menyeluruh, umat Islam diharapkan tidak hanya menjalankan ritual tahunan semata, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai ketakwaan, keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Mahdi
Editor: Fachri