26
Abstrak
Shalat dua Ied merupakan salah satu syiar penting dalam Islam yang memiliki tata cara khusus berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad. Pelaksanaan shalat Idulfitri dan Iduladha tidak hanya berfokus pada tata cara shalat semata, tetapi juga mencakup berbagai sunnah sejak persiapan di rumah hingga kembali dari tanah lapang. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji praktik Rasulullah saw. dalam menjalankan shalat dua Ied berdasarkan hadis-hadis shahih dan pandangan ulama. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui penelaahan hadis, kitab fikih, dan literatur keislaman. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan sejumlah sunnah dalam shalat dua Ied, di antaranya mandi sebelum berangkat, memakai pakaian terbaik, bertakbir sepanjang perjalanan, berjalan kaki menuju tanah lapang, mengambil jalan berbeda ketika pulang, serta melaksanakan shalat tanpa azan dan iqamah. Praktik tersebut mengandung nilai spiritual, sosial, dan edukatif yang penting untuk dihidupkan kembali oleh umat Islam masa kini.
Kata Kunci: Shalat Ied, sunnah Nabi, Idulfitri, Iduladha, syiar Islam.
Pendahuluan
Hari raya Idulfitri dan Iduladha merupakan momentum penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Kedua hari raya tersebut tidak hanya menjadi simbol kemenangan spiritual, tetapi juga sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan syiar agama. Salah satu ibadah utama pada kedua hari raya tersebut ialah shalat dua Ied yang dilaksanakan secara berjamaah.
Dalam praktiknya, Nabi Muhammad memberikan tuntunan yang sangat rinci mengenai tata cara pelaksanaan shalat dua Ied, mulai dari persiapan sebelum berangkat hingga adab setelah pelaksanaan shalat. Sunnah-sunnah tersebut menjadi pedoman penting bagi umat Islam agar pelaksanaan ibadah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga bernilai ibadah sesuai tuntunan syariat.
Namun demikian, dalam realitas masyarakat modern, sebagian sunnah pelaksanaan shalat Ied mulai jarang diperhatikan. Fokus masyarakat sering kali hanya tertuju pada pelaksanaan shalat dan khutbah, sementara adab dan sunnah lainnya kurang dipahami secara mendalam. Oleh sebab itu, diperlukan kajian ilmiah yang mengulas praktik Rasulullah saw. dalam melaksanakan shalat dua Ied secara komprehensif.
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik Rasulullah saw. dalam menjalankan shalat dua Ied berdasarkan sumber-sumber hadis dan literatur fikih Islam.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis-hadis shahih, kitab-kitab fikih klasik maupun kontemporer, serta berbagai referensi ilmiah terkait ibadah shalat dua Ied.
Teknik analisis dilakukan melalui pengumpulan data, klasifikasi sumber, interpretasi hadis, dan penarikan kesimpulan berdasarkan pendapat para ulama. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai praktik Rasulullah saw. dalam pelaksanaan shalat dua Ied.
Pembahasan
1. Persiapan Sebelum Berangkat Shalat Ied
Sebelum melaksanakan shalat Ied, Rasulullah saw. menganjurkan umat Islam untuk membersihkan diri dengan mandi. Mandi sebelum shalat Ied dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya sekaligus menjaga kebersihan dalam pertemuan besar kaum muslimin.
Selain mandi, Rasulullah saw. juga mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau menggunakan pakaian khusus untuk hari raya dan hari Jumat. Penggunaan wewangian bagi laki-laki juga termasuk sunnah yang dianjurkan.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap aspek kebersihan, keindahan, dan penghormatan terhadap momentum ibadah.
2. Sunnah Makan Sebelum dan Sesudah Shalat Ied
Terdapat perbedaan praktik antara Idulfitri dan Iduladha. Pada Idulfitri, Rasulullah saw. makan terlebih dahulu sebelum berangkat menuju tempat shalat. Dalam hadis riwayat Anas bin Malik disebutkan bahwa Nabi saw. memakan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil.
Sebaliknya, pada Iduladha beliau menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat. Setelah itu, beliau memakan sebagian daging hewan kurban. Sunnah ini mengandung makna simbolik yang membedakan karakter kedua hari raya.
3. Mengumandangkan Takbir Menuju Tempat Shalat
Takbir menjadi syiar utama dalam pelaksanaan hari raya. Rasulullah saw. dan para sahabat mengumandangkan takbir sejak keluar rumah menuju tanah lapang.
Takbir mengandung makna pengagungan kepada Allah Swt. sekaligus bentuk rasa syukur atas nikmat dan keberhasilan melaksanakan ibadah. Pada Idulfitri, takbir berlangsung hingga imam memulai shalat, sedangkan pada Iduladha takbir diperpanjang hingga hari-hari tasyrik.
Tradisi takbir juga memiliki nilai sosial karena mampu membangun suasana religius dan mempererat kebersamaan umat Islam.
4. Pelaksanaan Shalat di Tanah Lapang
Rasulullah saw. lebih sering melaksanakan shalat Ied di tanah lapang dibandingkan di masjid. Hal ini bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat dapat berkumpul dan menampakkan syiar Islam secara terbuka.
Dalam perjalanan menuju tempat shalat, Rasulullah saw. dianjurkan berjalan kaki apabila memungkinkan. Sunnah ini menunjukkan kesederhanaan dan semangat kebersamaan di tengah umat.
Selain itu, Rasulullah saw. mengambil jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang dari tempat shalat. Riwayat ini disampaikan oleh Jabir bin Abdullah. Para ulama menjelaskan bahwa sunnah tersebut memiliki hikmah memperluas syiar Islam dan memperbanyak silaturahmi.
5. Tata Cara Shalat Dua Ied
Shalat dua Ied dilaksanakan dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir tambahan setelah takbiratul ihram, sedangkan pada rakaat kedua terdapat lima kali takbir tambahan.
Setelah membaca Surah Al-Fatihah, Rasulullah saw. sering membaca Surah Al-A’la pada rakaat pertama dan Surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua. Setelah shalat selesai, imam menyampaikan khutbah kepada jamaah.
Khutbah Ied berfungsi sebagai sarana pendidikan umat yang berisi nasihat ketakwaan, penguatan ukhuwah, serta pembahasan persoalan sosial keagamaan.
6. Nilai Pendidikan dalam Sunnah Shalat Ied
Praktik Rasulullah saw. dalam pelaksanaan shalat dua Ied mengandung berbagai nilai pendidikan Islam. Nilai spiritual terlihat dari penguatan tauhid melalui takbir dan ibadah berjamaah. Nilai sosial tampak dalam kebersamaan umat tanpa membedakan status sosial.
Selain itu, sunnah berjalan kaki, memakai pakaian terbaik, dan menjaga adab mencerminkan pendidikan karakter berupa kesederhanaan, kebersihan, dan kedisiplinan. Oleh sebab itu, pelaksanaan shalat Ied bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana pembinaan moral dan spiritual umat Islam.
Kesimpulan
Praktik Rasulullah saw. dalam menjalankan shalat dua Ied mencakup berbagai sunnah yang dimulai sejak persiapan di rumah hingga kembali dari tanah lapang. Sunnah-sunnah tersebut meliputi mandi, memakai pakaian terbaik, makan sesuai tuntunan hari raya, bertakbir sepanjang perjalanan, berjalan kaki menuju tempat shalat, mengambil jalan berbeda saat pulang, serta melaksanakan shalat dan khutbah sesuai syariat.
Pelaksanaan sunnah tersebut tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga mengandung nilai pendidikan spiritual dan sosial yang sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam perlu menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah saw. dalam pelaksanaan shalat dua Ied agar syiar Islam dapat terlaksana secara lebih sempurna.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari.
Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim.
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats. Sunan Abu Dawud.
Asy-Syaukani, Muhammad bin Ali. Nailul Authar.
Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah.
Wahbah Az-Zuhaili. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu.
Penulis: Dien Mahdi Suhaeri Al Battawi
Editor: Fachri